Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bab 1 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia

The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama Dan Brown. Novel ini banyak menceritakan  tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.

Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia
 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia

Untuk menuntaskan novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel The Davinci Code versi bahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan gratis. Baca Kisahnya sekarang.

Bab 1 Novel The Da Vinci Code Versi Indonesia

ROBERT LANGDON berangsur-angsur terjaga. Sebuah telepon berdering dalam kegelapan—deringnya lirih, tak biasa. Dia meraba-raba lampu di samping tempat tidur dan menyalakannya. Dengan mata menyipit, dia mengamati sekitarnya, dan melihat ruang tidur mewah bergaya Renaissance dengan perabotan dari zaman Raja Louis XVI, dinding yang dicat dengan tarigan, dan ranjang sangat besar juga luas yang terbuat dari kayu mahogani.

Di mana gerangan aku? Mantel mandi dari bahan tenunan bergantung di ujung tempat tidurnya dari her-monogram HOTEL RITZ PARIS. Perlahan, kabut mulai terkuak. Langdon mengangkat gagang telepon itu. “Halo?” “Monsieur Langdon?” kata suara seorang lelaki. “Semoga saya tidak membangunkan Anda.” Dengan linglung Langdon menatap jam di sisi tempat tidur. Pukul 12:32 dini hari. Berarti baru satu jam dia tidur, namun seperti mati saja rasanya.

“Saya petugas penerima tamu, Monsieur. Maaf telah mengganggu, tetapi ada tamu untuk Anda. Dia memaksa, dan katanya ini sangat mendesak” Langdon masih merasa bingung. Seorang tamu? Matanya Sekarang menatap kertas selebaran yang kusut di atas meja sisi tempat tidur.

THE AMERICAN UNIVERSITY OF PARIS Dengan bangga mempersembahkan Semalam bersama ROBERT LANGDON Profesor Simbologi Agama, Universitas Harvard. Langdon menggeram. Ceramahnya malam tadi—sebuah pertunjukan slide tentang simbolisme penyembah berhala yang tersembunyi dalam dinding batu Katedral Chartres—mungkin telah menggelitik beberapa penonton konservatif yang perasa.

Sangat mungkin, beberapa sarjana religius telah mengikutinya pulang untuk menantangnya berkelahi. “Maaf” ujar Langdon, “tetapi saya sangat letih dan—” “Mais monsieur,” penerima tamu itu memaksa, seraya merendahkan suaranya menjadi bisikan yang mendesak.

“Tetapi tamu Anda orang penting.” Langdon agak ragu. Buku-bukunya tentang lukisan-lukisan bernapaskan agama dan simbologi cara pemujaan telah menjadikannya, mau tidak mau, seorang pesohor dalam dunia kesenian. Ketenarannya dalam melihat kasus telah berlipat ratusan kali setelah ia terlibat dalam insiden di Vatikan tahun lalu yang tersiar luas itu. Sejak itu, seolah tak pernah berhenti, para ahli sejarah yang punya kepentingan pribadi, dan para pencinta seni, berduyun-duyun mendatangi rumahnya.

“Tolonglah, Tuan yang baik,” kata Langdon, sesopan mungkin, “tanyakan nama orang tersebut dan nomor teleponnya, dan katakan juga bahwa saya akan menghubunginya sebelum saya meninggalkan Paris hari Selasa. Terima kasih.” Dia meletakkan teleponnya sebelum penerima tamu itu memprotesnya. Duduk tegak di tepi ranjangnya, dahi Langdon berkerut membaca Guest Relations Handbook, yang sampulnya berbual : TIDUR NYENYAK BAGAI BAYI DI KOTA PENUH CAHAYA. TIDURLAH DI RITZ, PARIS. Dia memutar tubuhnya dan menatap dengan letih pada cermin setinggi tubuh di kamar itu. Lelaki dalam cermin yang balas menatapnya itu adalah seorang asing— berantakan dan loyo.

Kau butuh liburan, Robert. Tahun lalu memang telah membuatnya sangat letih, tetapi dia tak mau mengakui dirinya tampak seperti lelaki dalam cermin itu. Matanya yang biasanya tampak biru dan tajam tampak kabur dan lesu malam ini. Berewok yang mulai tumbuh menghitami rahang kuat dan dagu belahnya.

Di sekitar pelipisnya, tampak kilatan rambut-rambut putih muncul menjorok semakin jauh ke bagian yang masih berambut hitam kasar. Walau teman-teman perempuannya meyakinkannya bahwa ubannya itu semakin mempertegas daya tariknya sebagai pencinta buku, Langdon tahu yang sebenarnya. Kalau saja Boston Magazine dapat melihatku saat ini. Bulan lalu, Boston Magazine membuatnya sangat malu, karena memasukkannya ke dalam daftar sepuluh orang tokoh paling menggoda— sebuah penghormatan meragukan yang membuatnya diolok habis-habisan oleh teman-teman Harvard-nya. Malam tadi, tiga ribu mil dari rumah, penghargaan itu muncul kembali, menghantuinya pada saat dia menyampaikan ceramah.

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak ...“ pembawa acara mengumumkan kepada para hadirin yang memenuhi ruangan Pavillon Dauphine di Universitas Amerika Paris tadi. “Tamu kita malam ini tak perlu diperkenalkan lagi. Beliau adalah penulis dari sejumlah buku: The Symbology of Secret Sects, The Art of Illuminati---The Lost Language of Ideograms, dan beliau juga menulis buku Religious Iconology. Banyak dari Anda yang menggunakan buku-bukunya di kelas.”

Para mahasiswa yang hadir mengangguk, antusias. “Saya ingin memperkenalkan beliau lebih jauh lagi dengan menceritakan riwayat hidupnya yang sangat mengesankan. Namun demikian ...“ perempuan pembawa acara itu mengerling penuh canda pada Langdon, yang duduk di atas pentas, “seorang hadirin baru saja memberikan cara perkenalan yang, katakanlah ... jauh lebih menggoda.” Pembawa acara mengangkat tinggi-tinggi sebuah terbitan majalah Boston Magazine. Langdon mengernyit.

Darimana dia dapat majalah itu? Pembawa acara itu mulai membaca kutipan-kutipan pilihan dari artikel di majalah tersebut, sementara Langdon merasa semakin tenggelam lebih dalam lagi di kursinya. Tiga puluh detik kemudian, para hadirin mulai menyeringai, dan para perempuan tampak tak tahan diri pula. “Dan penolakan Pak Langdon untuk bercerita kepada publik tentang peran istimewanya di Vatikan tahun lalu betul-betul menambahkan beberapa nilai pada tamu kita yang sangat menggoda ini.”

Pembawa acara itu menggiring para hadirin. “Anda ingin mendengar lebih banyak lagi?” Para hadirin bertepuk tangan. Tolong hentikan perempuan itu, Langdon memohon dalam hati ketika pembawa acara itu mulai membacakan artikel itu lagi. “Walau Profesor Langdon tidak terlalu tampan seperti para tokoh pilihan kami yang lebih muda, ilmuwan berusia sekitar empat puluhan ini memiliki lebih dari sekadar daya pikat keilmuan.

Penampilan menawannya lebih diperjelas dengan suaranya yang istimewa saat memberi kuliah. Suaranya rendah, bariton, sehingga para mahasiswinya menyebut suara itu seperti ‘permen coklat di telinga’.” Ruangan besar itu seperti meledak karena tawa riuh para hadirin. Langdon memaksakan senyuman kaku. Dia tahu apa yang akan keluar setelah ini—kalimat-kalimat dungu tentang “Harrison Ford dalam jas wol keluaran Harris”—dan karena malam ini dia sudah kadung mengenakan jas Harris dan t-shirt berleher tinggi keluaran Burberry, dia memutuskan untuk segera bertindak. “Terima kasih, Monique,” ujar Langdon, sambil berdiri sebelum waktunya, dan berjalan perlahan mendekati Monique di podium. “Boston Magazine benar-benar memiliki keahlian dalam menulis fiksi.” Dia menghadap ke hadirin dengan desah malu.

“Dan jika saya tahu siapa di antara Anda yang memberikan artikel ini, saya akan meminta konsulat untuk mendeportasinya.” Para hadirin tertawa lagi. “Baiklah, kawan-kawan, seperti yang telah Anda ketahui, saya di sini malam ini untuk berbicara tentang kekuatan dari simbol-simbol… Sambil mengerang tak percaya, dia mengangkat telepon itu. Seperti yang telah diduganya, penelepon itu adalah penerima tamu tadi. “Pak Langdon, kembali saya minta maaf.

Saya menelepon untuk memberi tahu bahwa tamu Anda sedang menuju kamar Anda sekarang. Saya pikir saya harus memberi tahu Anda.” Langdon sudah benar-benar terjaga sekarang. “Anda membiarkan orang datang ke kamar saya?” “Saya mohon maaf, Monsieur, tetapi orang seperti beliau ini saya tak kuasa menghentikannya.” “Siapa sebenarnya dia?” Tetapi penerima tamu itu telah memutuskan hubungan. Tak lama kemudian, sebuah kepalan tangan menggedor pintu kamar Langdon.

Dengan ragu, Langdon melorot turun dari ranjangnya, dan merasakan kedua kakinya tenggelam dalam permadani. Dia mengenakan mantel kamar mandinya dan melangkah ke arah pintu. “Siapa?” “Pak Langdon? Saya perlu bicara dengan Anda.” Bahasa Inggris lelaki itu beraksen perintah yang sangat tegas. “Nama saya Letnan Jérome Collet. Direction Cepurtale Police Judiciaire.” Langdon berhenti. Polisi Judisial? DCPJ kira-kira sama dengan FBI di Amerika. Langdon membiarkan rantai pengaman pintu tetap menyangkut, kemudian membuka pintu beberapa inci.

Wajah yang menatapnya itu tirus dan rusak. Lelaki itu sangat kurus, berpakaian seragam biru yang tampak resmi. “Boleh masuk?” agen itu bertanya. Langdon ragu-ragu. Dia merasa bimbang ketika mata agen itu menatapnya menyelidik. “Ada masalah apa?” “Capitaine saya membutuhkan keahlian Anda untuk urusan pribadi.” “Sekarang?” Langdon bertanya. “Tengah malam begini?” “Betulkah Anda dijadwalkan bertemu dengan seorang kurator dari Museum Louvre malam ini? Tiba-tiba Langdon merasa tak nyaman.

Dia dan seorang kurator terhormat, Jacques Saunière, telah dijadwalkan untuk minum bersama setelah ceramahnya malam ini. Namun Saunière tak muncul. “Ya. Bagaimana Anda tahu?” “Kami menemukan nama Anda dalam daily planner-nya.” “Tidak ada masalah, bukan?” Agen itu mendesah tak sabar, dan menyisipkan selembar foto Polaroid melalui celah sempit pintu itu. Ketika Langdon melihat foto itu, seluruh tubuhnya menjadi kaku. “Foto itu diambil kurang dari satu jam yang lalu. Di dalam Museum Louvre.” Sementara Langdon menatap foto ganjil itu, reaksi pertamanya adalah kemarahan yang memuncak. “Siapa yang tega melakukan ini!” “Kami harap Anda dapat membantu kami menjawab pertanyaan itu, mengingat keahlian Anda dan rencana Anda untuk bertemu dengannya.” Langdon menatap foto itu.

Kengeriannya sekarang bertambah dengan ketakutan. Gambar itu mengerikan dan betul-betul aneh, dan menimbulkan bayangan seperti sebuah deja vu yang merisaukan. Kira-kira setahun yang lalu, Langdon pernah menerima selembar foto mayat dan permintaan pertolongan yang sama, dan 24 jam kemudian dia hampir kehilangan nyawanya di dalam kota Vatikan. Foto ini sama sekali berbeda, namun skenarionya terasa sama. Agen itu melihat jam tangannya. “Capitaine saya menunggu, Pak.” Langdon hampir tak mendengarnya.

Matanya masih tetap terpaku pada gambar itu. “Simbolnya di sini dan keadaan tubuhnya sangat aneh ....“ “Sengaja diatur posisinya?” agen itu mencoba menolong. Langdon mengangguk, merasa menggigil ketika dia mendongak. “Aku tak dapat membayangkan ada orang yang tega melakukan ini.” Agen itu tampak muram. “Anda tidak mengerti, Pak Langdon. Apa yang Anda lihat dalam foto ini ....“ dia berhenti. “Monsieur Saunière melakukannya sendiri.”

Penutup Bab 1 Novel The Da Vinci Code

Terima kasih telah membaca novel bab 1 the da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa indonesia. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah ini. Atau mengklik tombol open yang ada di bawah.