Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bab 2 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia

The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama Dan Brown. Novel ini banyak menceritakan  tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.

Bab 2 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia
Bab 2 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia

Untuk menuntaskan novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel The Davinci Code versi bahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan gratis. Baca Kisahnya sekarang.

Bab 2 Novel The Da Vinci Code Versi Indonesia

BERJARAK SATU mil dari Hotel Ritz, seorang albino bertubuh kekar bernama Silas berjalan terpincang-pincang melalui pintu gerbang depan sebuah tempat tinggal mewah di Jalan Rue La Bruyere. Sabuk berduri cilice yang dikenakan ketat pada pahanya menghunjam ke dalam dagingnya, namun jiwanya bernyanyi dengan penuh kepuasan akan baktinya pada Tuhan. Sakit itu baik.

Mata merahnya menyapu lobi ketika dia memasuki rumah itu. Kosong. Dia menaiki tangga dengan tak berisik karena tidak ingin membangunkan rekan anggota sekelompoknya. Pintu kamar tidurnya terbuka; di sini kunci adalah terlarang. Dia masuk dan menutup pintunya. Ruangan itu berkesan spartan—berlantai kayu keras, lemari dan kayu pinus, kasur kanvas di sudut yang digunakan sebagai pembaringannya.

Dia adalah tamu di sini minggu ini, namun selama bertahun-tahun dia telah diberkahi dengan tempat tinggal serupa di New York City. Tuhan telah memberiku tempat berlindung dan tujuan dalam hidupku. Malam ini, akhirnya, Silas mulai merasa telah membayar hutangnya.

Dia bergegas ke lemari pakaiannya, mengambil sebuah telepon selular yang tersembunyi di dasar lacinya, lantas menghubungi seseorang. “Ya?” suara seorang lelaki menjawabnya. “Guru, aku telah kembali.” “Bicaralah,” suara itu memerintah, terdengar senang mendengar suara Silas. “Keempatnya mati. Tiga sénéchaux ... dan mahagurunya sendiri.” Senyap sejenak, seolah untuk berdoa. “Kalau begitu, kusimpulkan, kau punya informasi itu.” “Keempatnya berkata sama. Secara terpisah.” “Dan kau memercayai mereka?” “Persamaan kata-kata mereka terlalu berlebihan untuk dianggap kebetulan belaka.” Terdengar napas memburu.

“Bagus. Tadi aku khawatir reputasi kelompok persaudaraan untuk menjaga kerahasiaan itu akan mereka pertahankan.” “Bayangan kematian adalah motivasi yang kuat.” “Jadi, muridku, ceritakan apa yang harus kutahu.” Silas tahu bahwa sedikit informasi yang telah dia kumpulkan dari korbannya akan mengejutkan. “Guru, keempatnya meyakinkan tentang adanya clef de voute ... batu kunci yang legendaris itu.” Silas mendengar tarikan napas cepat melalui teleponnya dan dia dapat merasakan kegembiraan gurunya.

“Batu kunci itu. Betul-betul seperti yang kita perkirakan.” Menurut cerita turun-temurun, kelompok persaudaraan itu telah menciptakan sebuah peta batu—sebuah clef de voüte ... atau batu kunci—sebuah batu ceper melengkung berukir yang mengungkap tempat peristirahatan terakhir dan rahasia besar kelompok persaudaraan itu ... informasi yang sangat berharga sehingga untuk melindunginyalah kelompok persaudaraan itu dibentuk. “Saat kita memiliki batu kunci itu,” ujar Guru, “kita akan hanya kurang satu langkah lagi.” “Kita sudah lebih dekat dari yang Anda kira. Batu kunci itu di sini, di Paris.” “Paris? Luar biasa. Hampir terlalu mudah.” Silas kemudian menceritakan kejadian-kejadian sebelumnya malam itu ... bagaimana keempat korbannya, pada saat mendekati kematian, telah mencoba mendapatkan kembali kehidupan tak bertuhan mereka dengan cara menceritakan rahasia mereka. Masing-masing telah menyampaikan kepada Silas cerita yang betul-betul sama, bahwa batu kunci tersebut memang tersembunyi di sebuah tempat yang pasti, di dalam salah satu gereja tua di Paris—Gereja Saint-Sulpice.

“Di dalam rumah Tuhan,” seru Guru. “Mereka betul-betul memperolokkan kita!” Selama berabad-abad. Guru terdiam, seolah membiarkan kemenangan saat itu meresap dalam dirinya. Akhirnya, dia berbicara. “Kau telah melakukan pelayanan besar bagi Tuhan. Kita telah menunggunya selama berabad-abad. Kau harus menemukan batu kunci itu untukku. Segera. Malam ini. Kau tahu risikonya.” Silas tahu, risikonya sangat tak terhingga.

Walaupun demikian, apa yang diminta Guru terasa sangat tidak mungkin. “Gereja itu merupakan sebuah benteng, terutama pada malam hari. Bagaimana aku dapat memasukinya?” Dengan suara yang sangat meyakinkan dari seorang yang sangat berpengaruh, Guru menjelaskan apa yang harus dilakukan Silas. Ketika Silas menutup teleponnya, kulitnya merinding karena harapan. Satu jam, katanya pada dirinya sendiri, bersyukur karena Guru memberinya kesempatan untuk melakukan penebusan dosa sebelum memasuki rumah Tuhan. Aku harus membersihkan diri dari dosa-dosaku hari ini. Dosadosanya hari ini bertujuan suci.

Perang melawan musuh-musuh Tuhan telah dilakukan selama berabad-abad. Pengampunan sudah terjamin. Namun demikian, Silas tahu, pengampunan menuntut pengorbanan. Setelah menarik tirai, dia menelanjangi dirinya dan berlutut di tengah kamarnya. Dia melihat ke bawah, memeriksa ikat pinggang berduri cilice-nya yang melingkar ketat pada pahanya.

Semua pengikut The Way yang setia mengenakan peralatan itu—sebuah pengikat dari kulit, ditaburi mata kail dan metal tajam yang menancap ke daging sebagai pengingat yang tak putus akan penderitaan Kristus. Rasa sakit yang diakibatkan oleh alat tersebut juga membantu menghilangkan nafsu jasmaniah. Hari ini Silas telah mengenakan cilice-nya lebih lama dari yang diharuskan, yaitu dua jam. Dia tahu, hari ini bukanlah hari biasa.

Silas menggenggam kepala ikat pinggangnya, mempereratnya satu lubang lagi, dan meringis ketika mata kail menusuk lebih dalam ke dagingnya. Dia menghembuskan napasnya perlahan, menikmati rasa sakit yang merupakan ritual pembersihan dirinya. Sakit itu baik, Silas berbisik, mengulang-ulang mantra kudus Bapa Josemaria Escrivá—Guru Para Guru.

Walau Escrivá telah meninggal pada tahun 1975, kebijakannya tetap hidup, kata-katanya masih tetap dibisikkan oleh ribuan pelayan setia di seluruh dunia ketika mereka berlutut di atas lantai dan melakukan tindakan kudus yang dikenal sebagai “pematian raga”. Silas mengalihkan perhatiannya sekarang pada tali berat bersimpul yang tergulung rapi di lantai di sampingnya. Disiplin itu. Simpul-simpul itu berlumuran darah kering.

Silas begitu bersemangat akan hasil pembersihan dirinya melalui penderitaannya. Dia mengucap doa dengan cepat. Kemudian, dengan menggenggam ujung tali itu, dia menutup matanya dan mengayunkan tali itu dengan keras melalui bahunya, sehingga dia merasakan pukulan simpul itu pada punggungnya. Dia melecutkannya lagi ke bahunya, mengiris dagingnya. Lagi dan lagi, dia mencambuki dirinya. Castigo corpus meum. Akhirnya, dia merasakan darah mulai mengalir.

Penutup Bab 2 Novel The Da Vinci Code

Terima kasih telah membaca novel Bab 2 the da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa indonesia. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah ini. Atau mengklik tombol open yang ada di bawah.