Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bab 3 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia

The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama Dan Brown. Novel ini banyak menceritakan  tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.

Untuk menuntaskan novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel The Davinci Code versi bahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan gratis. Baca Kisahnya sekarang.

Bab 3 Novel The Da Vinci Code Versi Indonesia

CUACA BULAN April yang segar dan kering mengalir melewati jendela yang terbuka di dalam Citroën ZX. Mobil itu meluncur ke selatan melewati Gedung Opera dan menyeberangi Place Vendôme. Di tempat duduk penumpang, Robert Langdon merasa kota ini melaju dengan cepat melewatinya ketika ia berusaha menjernihkan pikirannya.

Bab 3 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia
Bab 3 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia


Mandi cepat dengan pancuran dan bercukur telah menolong penampilan Langdon menjadi cukup pantas, namun perasaan cemasnya tak begitu berkurang. Gambar jasad kurator yang menakutkan tadi masih menancap di otaknya. Jacques Saunière mati. Langdon merasa sangat kehilangan atas kematian kurator itu. Walaupun selalu bersikap seperti pertapa, dedikasi Saunière pada seni membuat dirinya dihormati.

Buku-bukunya tentang kode-kode rahasia yang tersembunyi dalam lukisan-lukisan Poussin dan Teniers adalah buku-buku teks kesukaan Langdon dalam kuliahnya. Pertemuan mereka malam ini telah sangat dinanti-nantikan Langdon, dan dia sangat kecewa ketika kurator itu tidak datang. Kembali gambaran mayat kurator itu berkelebat dalam benaknya.

Jacques Saunière melakukan itu pada dirinya sendiri? Langdon menoleh dan melihat ke luar jendela, mengusir bayangan itu dari pikirannya. Di luar, kota itu baru saja memulai kegiatannya—para penjaja mendorong kereta gula-gula amandes, para pelayan membawa kantong sampah ke tepi jalan, sepasang kekasih yang kemalaman berjalan sambil saling bergelayut supaya tetap hangat diterpa angin berarorna kembang melati. Mobil Citroën mengatasi kekacauan kota itu dengan yakin. Sirene dua nadanya membelah lalu-lintas seperti pisau tajam. “Le capitaine senang ketika dia tahu Anda masih berada di Paris malam ini,” ujar agen itu sambil mengemudi, untuk pertama kalinya berbicara sejak mereka meninggalkan hotel. “Kebetulan yang menguntungkan.”

Langdon sama sekali tidak merasa beruntung, dan kebetulan adalah sebuah konsep yang sama sekali tidak dipercayainya. Sebagai seseorang yang sepanjang hidupnya meneliti, saling keterkaitan yang tersembunyi antara emblem-emblem dan ideologi-ideologi, Langdon melihat dunia sebagai sebuah sarang laba-laba yang terbentuk dan saling terkaitnya sejarah-sejarah dan kejadian-kejadian. Hubungan itu mungkin saja tak terlihat, begitu dia ajarkan di depan kelas simbologi di Harvard, tetapi hubungan tersebut selalu ada, terkubur tepat di bawah permukaan. “Universitas Amerika Paris memberi tahu tempat saya menginap, bukan?” kata Langdon.

Agen itu menggelengkan kepalanya. “Interpol.” Interpol, pikirnya. Tentu saja. Dia lupa bahwa permintaan yang tampak sepele akan pemeriksaan paspor saat chek-in di semua hotel di Eropa ternyata lebih dari sekadar formalitas sepele—itu peraturan hukum. Pada sembarang malam, di seluruh Eropa, agen interpol sanggup melacak dengan pasti siapa sedang tidur di mana. Menemukan Langdon tidur di Ritz mungkin hanya butuh waktu lima detik.

Begitu Citroën itu mempercepat lajunya ke arah selatan membelah kota, Menara Eiffel yang anggun mulai tampak, menjulang ke angkasa, di arah kanan. Saat menatapnya, Langdon teringat pada Vittoria; dia terkenang janji main-main mereka untuk selalu bertemu enam bulan sekali di tempat-tempat romantis di seluruh dunia. Menara Eiffel, perkiraan Langdon, ada juga dalam daftar mereka. Sayangnya, ciuman terakhir Langdon pada Vittoria adalah ketika mereka di Roma lebih dari setahun yang lalu. “Anda pernah menaiki perempuan ini?” tanya agen itu sambil menatap menara itu.

Langdon melihat ke atas, jelas dirinya tak mengerti. “Maaf?” “Dia sangat cantik, bukan?” ujar agen itu lagi sambil mengarah ke Menara Eiffel. “Sudah pernah menaikinya?” Langdon menggulung matanya ke atas. “Belum. Saya belum pernah menaiki menara itu.” “Menara itu simbol Prancis. Menurutku, menara itu sempurna” Langdon mengangguk begitu saja.

Simbologi sering mengungkap bahwa Prancis—negeri yang terkenal akan kesan jantan dan hidung belang, juga pemimpin-pemimpin mereka yang kecil dan pencemas, Napoleon dan Pepin si Pendek—seolah tak dapat memilih simbol yang lebih baik daripada sekadar sebuah lingga setinggi seribu kaki. Saat mereka tiba di persimpangan di Rue de Rivoli, lampu lalu lintas menyala merah, namun Citroën itu tak memperlambat lajunya.

Agen itu mengarahkan sedannya menyeberangi persimpangan itu dan meluncur cepat ke arah area berpepohonan, Rue Castiglione~ yang merupakan gerbang utara masuk ke Taman Tuileries yang tersohor itu—ini adalah Central Park ala Paris. Umumnya para turis salah menerjemahkan Jardines des Tuileries sebagai sebuah taman penuh dengan ribuan tulip mekar, namun Tuileries sebenarnya berkaitan dengan sesuatu yang sangat kurang romantis. Taman ini dulunya merupakan penggalian sumur besar yang sangat tercemar. Dari sinilah para kontraktor paris menambang tanah liat untuk membuat genteng merah yang sangat terkenal untuk kota itu, atau tuiles. Ketika mereka memasuki taman yang sunyi itu, agen itu merogoh ke bawah dasbor untuk mematikan sirene yang meraung.

Langdon menghembuskan napasnya, menikmati kesenyapan yang tiba-tiba itu. Di luar mobil, sinar lampu mobil yang pucat jatuh ke atas jalan kerikil di taman itu; derak-derak ban mobil di atasnya seperti alunan yang menghipnotis.

Langdon selalu memandang Tuileries sebagai tanah suci. Ini adalah taman tempat Claude Monet bereksperiman dengan bentuk dan warna, dan memberinya inspirasi pada aliran lukisannya, impresionisme. Namun, malam ini taman ini beraura penuh firasat yang aneh. Citroën membelok ke kiri sekarang, mengarah ke barat ke bulevar pusat taman ini.

Mengelilingi kolam bulat, pengemudi itu memotong jalan terpencil dan memasuki lapangan segi empat. Sekarang Langdon dapat melihat ujung Taman Tuileries, ditandai dengan gerbang batu. Arc du Carrousel. Walau dulu ritual orgi pernah diadakan di Arc du Carrousel ini, para pencinta kesenian memuja tempat ini karena alasan yang betul-betul lain.

Dari tanah lapang di ujung taman ini bisa terlihat empat museum kesenian terindah di dunia ... satu di setiap mata angin. Dari jendela sebelah kanan, ke arah selatan menyeberangi Sungai Seine dan Quai Voltaire, Langdon dapat melihat cahaya lampu bagian muka stasiun kereta api tua—sekarang menjadi Musée d’Orsay yang anggun. Mengerling ke kiri, dia dapat mencapai atap dan gedung ultra modern Pompidou Centre, yang merupakan Museum Kesenian Modern.

Di belakangnya, ke arah barat, Langdon tahu, obelisk Ramses kuno menjulang melebihi pepohonan, menandai sebuah museum lagi, Musée du Jeu de Paume. Dan, lurus ke depan, ke arah timur, melewati gerbang itu, Langdon dapat melihat monolit istana Renaissance yang telah menjadi museum paling tersohor di dunia. Musee du Louvre. Langdon merasa takjub ketika matanya tak mampu menangkap keseluruhan bangunan besar itu.

Di seberang sebuah plaza yang sangat luas, bagian muka Museum Louvre yang mencolok tampak menjulang bagai benteng, ke langit Paris. Berbentuk seperti tapal kuda raksasa, Louvre merupakan gedung terpanjang di Eropa, merentang lebih panjang daripada tiga kali Eiffel yang dibaringkan. Plaza terbuka seluas sejuta kaki di antara sayapsayap museum bahkan tak dapat menyaingi luas bagian muka museum. Langdon pernah berjalan-jalan di dalam Louvre, dan dia ternyata menempuh tiga mil perjalanan.

Diperkirakan, diperlukan kunjungan lima hari bagi seorang wisatawan untuk dapat menikmati 65.300 benda seni di dalam gedung ini dengan saksama. Namun demikian, umumnya wisatawan memilih pengalaman singkat yang Langdon sebut sebagai “Louvre Lite”—yaitu kunjungan singkat ke museum itu yang Langsung menuju ke tiga objek yang paling tersohor, Mona Lisa, Venus de Milo, dan Winged Victory. Art Buchwald pernah membual bahwa dia melihat ketiga adikarya itu hanya dalam waktu 5 menit dan 56 detik saja. Agen itu mengeluarkan walkie-talkie genggam dan berbicara dalam bahasa Prancis dengan sangat cepat, memberitahukan bahwa Langdon telah tiba.

“Monsieur Langdon est arrive. Deux minutes.” Sebuah konfirmasi yang tak jelas terdengar. Agen itu menyimpan kembali alat tadi, lalu menoleh kepada Langdon. “Anda akan bertemu dengan Capitaine di pintu masuk utama.” Agen itu mengabaikan tanda larangan masuk di plaza, menyalakan kembali mesin mobil, dan menjalankan Citroën itu melintasi tepi jalan. Pintu masuk utama Louvre sudah terlihat kini, muncul begitu saja di kejauhan, dikeliingi oleh tujuh kolam segi tiga dengan air mancur yang diterangi cahaya. La Pyramide. Hampir seperti orang Neanderthal, berpakaian jas double-breast berwama gelap yang tampaknya menutupi kebidangan bahunya.

Dia berjalan dengan tungkai-tungkai sangat terlatih dalam berjongkok sehingga menjadi sangat kuat. Dia sedang berbicara lewat telepon selularnya, namun menyelesaikan pembicaraan ketika tiba di depan Langdon. Dia memberi isyarat kepada Langdon untuk masuk. “Saya Bezu Fache,” katanya ketika Langdon masuk melalui pintu putar. “Kapten Central Directorate Judicial Police.”

Nada suaranya pas—bergumam parau ... seperti badai yang hendak tiba. Langdon mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Robert Langdon.” Tangan Fache yang besar membungkus tangan Langdon dengan sangat kuat. “Aku sudah melihat foto itu,” ujar Langdon. “Agen Anda mengatakan bahwa Jaques Saunière sendiri yang melakukan—” “Pak Langdon,” mata hitam Fache menatap. “Apa yang Anda lihat di foto itu baru awal dari apa yang dilakukan Saunière.”

 

Penutup Bab 3 Novel The Da Vinci Code

Terima kasih telah membaca novel Bab 3 the da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa indonesia. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah ini. Atau mengklik tombol open yang ada di bawah.