Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bab 6 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia

The Da Vinci Code merupakan novel detektif misteri karya penulis novel terkenal yang bernama Dan Brown. Novel ini banyak menceritakan  tentang simbolog Robert Langdon dan kriptolog Sophie Neveu setelah suatu kasus pembunuhan yang terjadi di Museum Louvre di Paris.

Untuk menuntaskan novel ini kamu perlu banyak waktu dan harus dalam keadaan santai agar mampu memahami isi cerita perbab. Kamu akan membaca novel The Davinci Code versi bahasa Indonesia di Blog novel ini sampai tamat dengan gratis. Baca Kisahnya sekarang.

Bab 6 Novel The Da Vinci Code Versi Indonesia

SETELAH DIGENCET di bawah gerbang keamanan, Robert Langdon sekarang berdiri di dalam, pintu masuk ke Galeri Agung. Dia melihat ke dalam mulut gang yang dalam dan panjang. Pada sisi lain galeri ini, dinding kapur menjulang tiga puluh kaki, seakan menguap ke dalam kegelapan di atasnya. Cahaya kemerahan dari lampu mengarah ke atas, memberikan terang buatan ke arah koleksi lukisan yang menggemparkan dari karya-karya Da Vinci, Titians, dan Caravaggio, yang tergantung dengan kabel dari langit-langit.

Bab 6 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia
Bab 6 Novel The Da Vinci Code Versi Bahasa Indonesia

Lukisan alam benda, adegan-adegan religius, dan pemandangan alam bersanding dengan potret para potret para bangsawan dan politikus. Walau Galeri Agung menyimpan benda-benda seni Italia yang paling tersohor, para pengunjung berpendapat bahwa bagian paling memesona yang ditawarkan bagian sayap itu adalah lantai parketnya yang terkenal. Terhampar dalam rancangan geometris yang mencengangkan, dengan potongan kayu ek tipis dan panjang yang disusun secara diagonal, lantai itu membenikan ilusi optik singkat—sebuah jaringan multi-dimensi yang memberi perasaan mengambang di sepanjang galeri saat para pengunjung berjalan di permukaannya yang berganti-ganti pada setiap langkah.

Ketika Langdon mulai menatap hamparan lantai itu, matanya berhenti pada sebuah benda yang tak semestinya ada di atas lantai, tergeletak hanya beberapa yard di sebelah kirinya, dikelilingi dengan pita polisi. Dia berputar ke arah Fache. “Apakah itu sebuah Caravaggio tergeletak di lantai?” Fache mengangguk tanpa melihatnya. Langdon menerka, harga lukisan itu tentulah lebih dari dua juta dolar Amerika, dan tergeletak begitu saja di atas lantai seperti poster buangan. “Mengapa tergeletak begitu saja di lantai!” Fache menggeram, sama sekali tidak bereaksi. “ini tempat peristiwa kriminal, Pak Langdon. Kami tidak boleh menyentuh apa pun. Kanvas itu diturunkan dari dinding oleh kurator itu. Begitulah caranya mengaktifkan sistem pengamanan.”

Langdon melihat lagi gerbang itu, mencoba membayangkan apa yang telah terjadi. “Kurator itu telah diserang di kantornya, melarikan diri ke Galeri Agung, dan mengaktifkan gerbang pengaman dengan cara menurunkan lukisan dari dinding. Gerbang itu langsung turun, menutup semua jalan. Ini satu-satunya pintu keluar dan masuk galeri ini.” Langdon merasa bingung. “Jadi kurator itu sebenarnya memerangkap penyerangnya di dalam Galeri Agung?” Fache menggelengkan kepalanya. “Gerbang itu memisahkan Saunière dari penyerangnya.

Si pembunuh terkunci di luar di gang dan menembak Saunière dari gerbang itu.” Fache menunjuk pada tanda berwarna jingga yang tergantung pada salah satu jeruji pintu gerbang yang tadi mereka selusupi. “Tim PTS menemukan residu dari senjata itu. Dia menembak melalui jeruji. Saunière tewas di sini sendirian. Langdon mengingat foto mayat Saunière. Mereka mengatakan bahwa Sauniere melakukan itu sendiri pada dirinya. Langdon melihat ke koridor besar di depan mereka. “Jadi, di mana mayat itu tergeletak?” Fache meluruskan penjepit dasi salibnya dan mulai berjalan lagi. “Seperti yang mungkin sudah Anda tahu, Galeri Agung sangat panjang.” Panjang sesungguhnya, jika Langdon tak salah ingat, adalah sekitar 1.500 kaki, sepanjang tiga kali Monumen Washington yang dibaringkan.

Sama mengagumkannya adalah lebar koridor ini, yang dengan mudah dapat dilewati oleh sepasang kereta api berdampingan. Bagian tengah gang itu ditandai oleh patung kolosal atau jambangan porselin, yang berfungsi sebagai pemisah yang indah dan menjaga lalu lintas pengunjung agar tetap berjalan di masing-masing sisi tembok. Fache bungkam sekarang, berjalan cepat pada sisi kanan koridor dengan tatapan tetap ke depan.

Langdon merasa agak kurang ajar karena hanya berjalan cepat melewati begitu banyak adikarya tanpa berhenti, bahkan tidak untuk mengerling pun. Bukannya aku bisa melihat dalam pencahayaan seperti ini, pikirnya. Pencahayaan remang-remang ini sialnya, telah mengingatkannya kembali pada pengalamannya di ruang redup di penyimpanan arsip rahasia, Vatikan Secret Archives. Keadaan seperti ini sangat mirip dengan kejadian ketika dia hampir tewas di Roma.

Bayangan Vittoria berkelebat lagi. Vittoria telah menghilang dari mimpi-mimpinya selama beberapa bulan terakhir ini. Langdon tak dapat percayai kalau Roma baru berlalu setahun; rasanya seperti sudah satu dekade. Kehidupan yang lain. Surat-menyurat terakhirnya dengan Vittoria adalah pada bulan Desember__selembar kartu pos mengatakan bahwa Vittoria sedang menuju ke Laut Jawa, untuk melanjutkan penelitiannya dalam fisika yang rumit ... tentang penggunaan satelit untuk mengikuti perpindahan ikan paus manta yang besar.

Langdon tak pernah membayangkan seorang perempuan sepenti Vittoria Vetra dapat hidup bahagia bersamanya di asrama perguruan tinggi, namun pertemuan mereka di Roma telah membuat Langdon merasakan hal yang tak pernah ia bayangkan bisa ia rasakan. Kebahagiaan hidup melajang seumur hidupnya dan kebebasan sederhana akhirnya tergoyahkan ... berganti dengan rasa kekosongan yang tampaknya berkembang selama satu tahun ini. Mereka melanjutkan berjalan cepat, tetapi Langdon belum juga melihat mayat itu. “Jacques Saunière berjalan sejauh ini?” “Pak Saunière menderita karena ada sebutir peluru di perutnya.

Dia tewas perlahan-lahan sekali. Mungkin lebih dari 15 sampai 20 menit. Dia pastilah seorang lelaki yang kuat.” Langdon menoleh, terkejut. “Petugas keamanan membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke sini?” “Tentu saja tidak. Petugas keamanan Louvre langsung bereaksi ketika alarm berbunyi, dan mendapatkan galeri itu terkunci. Melalui gerbang itu, mereka dapat mendengar seseorang bergerak-gerak di ujung gang dan di koridor, tetapi mereka tidak dapat melihat siapa dia. Mereka berteriak, tetapi tak dijawab. Mereka mengira itu seorang penjahat. Mereka mengikuti peraturan dan menelepon Polisi Judisial.

Kami tiba di tempat dalam waktu lima belas menit. Ketika kami tiba, kami menaikkan gerbang itu sedikit, cukup untuk diterobos dari bawah, dan saya mengirim dua belas petugas bersenjata ke dalam. Mereka memeriksa galeri ini untuk menangkap penyusup itu.” “Dan?” “Mereka tidak menemukan siapa pun di dalam. Kecuali…” Dia menunjuk agak jauh ke dalam gang. “Dia.” Langdon mengangkat pandangannya dan mengikuti arah jari Fache. Pada mulanya, dia mengira Fache menunjuk pada patung pualam besar di tengah gang. Ketika mereka bergerak lebih lanjut, Langdon mulai melihat melewati patung itu. Tiga puluh yard di gang itu, sebuah lampu dengan tiang yang dapat dipindah-pindahkan menyorot ke bawah, menciptakan bentuk pulau cahaya putih di dalam galeri merah tua itu. Di tengah-tengah cahaya itu, layaknya seekor serangga di bawah mikroskop, mayat sang kurator tergeletak bugil di atas lantai parket. “Anda sudah melihat foto itu,” ujar Fache, “jadi ini tidak mengejutkan lagi.”

Langdon merasa menggigil ketika mereka mendekati mayat itu. Baginya, ini adalah bayangan teraneh yang pernah dia lihat. Mayat pucat Jacques Saunière tergeletak di atas lantai parket, persis seperti yang. terlihat di foto. Ketika Langdon berdiri di dekat jenazah itu dan agak memicingkan matanya karena sinar lampu yang terlalu terang, dia terpikir sesuatu, dan heran juga, bahwa Saunière telah menggunakan beberapa menit di akhir hidupnya untuk mengatur tubuhnya sendiri berpose begitu aneh. Saunière tampak sangat sehat untuk lelaki seusianya ... dan semua ototnya terlihat jelas.

Dia telah menanggalkan setiap helai pakaiannya, meletakkannya dengan rapi di atas lantai, dan berbaring terlentang di tengah-tengah koridor yang lebar itu, tepat segaris dengan poros panjang ruangan itu. Tangan dan tungkainya terentang lebar seperti sayap elang, seperti posisi malaikat salju yang dibuat anak-anak ..,. atau, mungkin lebih tepat, seperti seorang lelaki yang ditarik dan dipotong menjadi empat oleh kekuatan yang tak tampak. Tepat di bawah tulang dada Saunière, noda darah menandai titik di mana peluru itu menembus dagingnya. Anehnya, luka itu tak mengeluarkan banyak darah, hanya membentuk kolam kecil darah kehitaman.

Jari telunjuk tangan kiri Saunière juga berdarah, tampaknya telah dimasukkan ke lubang tempat peluru menembus untuk menciptakan aspek yang paling mengguncangkan dari kematiannya yang sangat méngerikan itu; menggunakan darahnya sendiri sebagai tinta, dan memakai perut bugilnya sebagai kanvas, Saunière telah menggambar sebuah simbol sederhana di atas jasadnya— lima garis lurus saling berpotongan membentuk sebuah bintang lima titik. Bintang berdarah itu, yang terpusat pada pusar Saunière, memberi aura perampok kubur yang jelas pada mayatnya.

Foto yang telah dilihat Langdon cukup menggigilkan, tetapi, sekarang, melihat sendiri kejadian itu, Langdon merasa sangat gelisah. Dia melakukan sendiri pada dirinya. “Pak Langdon?’ mata hitam Fache menatapnya lagi. “Ini pentakel,” ujar Langdon, suaranya terdengar kosong dalam ruangan besar ini. “Salah satu simbol tertua di dunia. Digunakan lebih dari empat ribu tahun sebelum Masehi.” “Dan artinya?” Langdon selalu ragu-ragu ketika dia menerima pertanyaan seperti itu. Mengatakan kepada seseorang apa arti simbol itu seperti mengatakan bagaimana sebuah lagu seharusnya memengaruhi perasaan orang—itu berbeda bagi setiap orang. Kerudung topeng putih Ku Klux Klan menimbulkan gambaran kebencian dan rasisme di Amerika Serikat, namun kostum yang sama membawa arti keyakinan religius di Spanyol. “Simbol mengandung arti yang berbeda pada tempat yang berbeda,” kata Langdon. “Pada awalnya pentakel adalah simbol religius untuk kaum pagan.” Fache mengangguk. “Pemuja setan.” “Bukan,” Langdon memperbaiki, langsung menyadari pemilihan kosa katanya harus lebih jelas. Sekarang ini kata pagan telah hampir disamakan dengan pemujaan setan— salah konsep yang ngawur.

Akar katanya adalah dari bahasa Latin paganus, artinya penduduk negeri. “Kaum pagan” secara harfiah berarti orang-orang desa yang tidak terindoktrinasi yang berpegang teguh pada agama pedesaan tua yang memuja Alam. Kenyataannya, Gereja begitu takut akan orang-orang yang tinggal di pedesaan atau villes, sehingga kata yang dulu sama sekali tak berbahaya yang artinya “penduduk desa”, yaitu villain, menjadi berarti jiwa jahat. “Pentakel itu,” Langdon menjelaskan, “merupakan simbol dari zaman sebelum Masehi, yang berkaitan dengan pemujaan Alam. Para nenek moyang melihat dunia ini sebagai dua bagian—lelaki dan perempuan. Para dewa dan dewi mereka bekerja untuk menjaga keseimbangan kekuatan. Yin dan Yang. Ketika lelaki dan perempuan seimbang, muncul harmoni di dunia ini. Jika mereka tidak seimbang, muncul kekacauan.” Langdon menunjuk pada perut Saunière. “Pentakel ini mewakili bagian perempuan—sebuah konsep yang oleh para ahli sejarah religius disebut sebagai “perempuan suci” atau “dewi yang hebat”. Saunière, juga semua orang, mengetahuinya.” “Saunière menggambar simbol seorang dewi pada perutnya?”

Langdon harus mengakui, itu kelihatannya aneh. “Pada interpretasi yang paling khusus, pentakel menyimbolkan Venus—dewi seks, cinta, dan kecantikan perempuan.” Fache menatap mayat lelaki bugil itu, dan menggerutu. “Agama yang pertama berdasarkan pada tatanan suci Alam. Dewi Venus dan planet Venus adalah satu dan sama. Dewi itu memiliki tempat di langit waktu malam, dan dikenal dengan banyak nama: Venus, Bintang Timur, Ishtar, Astarte—semuanya merupakan konsep perempuan yang kuat dengan ikatan kepada Alam dan Ibu Bumi.”

Fache tampak semakin bingung, seakan dia lebih menyukai gagasan pemujaan setan. Langdon memutuskan untuk tidak berbicara lebih banyak tentang kekayaan yang paling mengagumkan dari pentakel—asal usul grafik dan keterikatannya dengan Venus. Sebagai seorang mahasiswa astronomi yang masih muda, Langdon pernah begitu terpesona saat tahu bahwa planet venus berjalan mengikuti pentakel yang sempurna menyeberangi langit eklip setiap delapan tahun. Para leluhur dulu begitu terpesona menyelidiki fenomena ini, bahwa Venus dan pentakelnya menjadi simbol dari kesempurnaan, kecantikan, dan kualitas peredaran dari cinta seksual.

Sebagai penghormatan pada kesaktian Venus, orang-orang Yunani menggunakan siklus delapan tahunnya itu untuk mengorganisasi olimpiade mereka Sedikit saja orang sekarang yang tahu bahwa siklus empat tahun olimpiade modern masih mengikuti setengah siklus Venus. Bahkan, lebih sedikit orang yang tahu bahwa bintang segi lima hampir telah menjadi segel resmi olimpiade namun sudah dimodifikasi pada akhirnya—lima titiknya ditukar dengan lima lingkaran yang saling memotong untuk merefleksikan dengan lebih baik jiwa permainan, yaitu keterbukaan dan harmoni. “Pak Langdon,” kata Fache tiba-tiba. “Jelas, pentakel itu mestinya ada hubungannya dengan setan. Film horor Amerika Anda menjelaskan begitu dengan sangat jelas.” Langdon mengerutkan dahinya. Terima kasih, Hollywood. Bintang bersisi lima sekarang merupakan sebuah klise virtual dalam film-film pembunuhan berantai berlatar setan. Gambar bintang seperti itu biasanya dicoretkan pada dinding apartemen seorang pemuja setan bersama dengan simbol-simbol lain yang diduga bersifat setan.

Langdon selalu frustrasi ketika melihat simbol dalam konteks ini; sesungguhnya simbol pentakel bersifat sangat ketuhanan. “Saya yakinkan Anda,” ujar Langdon. “Lepas dari yang Anda lihat dalam film, interpretasi pentakel sebagai simbol setan adalah salah secara historis. Makna femininnya yang asli adalah benar, tetapi simbolisme pentakel telah dirusak selama lebih dari seribu tahun. Dalam kasus ini, dirusak dengan corètan darah.” “Saya tidak yakin mengerti Anda.” Langdon mengerling pada tanda salib Fache, tak yakin bagaimana dia akan mengatakan pikiran berikutnya. “Gereja, Pak.

Simbol-simbol sangat kental, tetapi pentakel diubah oleh Gereja Katolik Roma awal. Sebagai bagian dari kampanye Vatikan untuk membasmi agama pagan dan mengembalikan rakyat ke agama Kristen, Gereja mengadakan kampanye fitnahan melawan pemuja dewa dan dewi, menjadikan simbol-simbol ketuhanan pagan sebagai kejahatan.” “Teruskan.” “Ini sangat biasa pada masa kekacauan,” Langdon melanjutkan. “Sebuah kekuatan baru yang muncul akan mengambil alih simbol-simbol yang sudah ada dan merendahkannya secara berangsur-angsur dengan maksud menghapus arti simbol-simbol tersebut. Dalam peperangan antara simbol pagan dan simbol Kristen, pagan kalah; tombak bermata tiga milik Poseidon menjadi garpu setan, topi bijak yang meruncing ke atas menjadi simbol tukang sihir, dan pentakel Venus menjadi tanda setan.” Langdon berhenti. “Sialnya, militer Amerika Serikat juga menyesatkan arti pentakel; sekarang simbol yang paling disukai untuk perang adalah pentakel. Kami memasangnya pada jet-jet tempur dan menggantungnya pada bahu para jenderal.” Ini sangat keterlaluan bagi dewi cinta dan kecantikan. “Menarik.” Fache mengangguk pada mayat yang terentang seperti elang terbang itu.

“Dan bagaimana dengan posisi tubuh ini? Apa yang dapat Anda baca dari situ?” Langdon menggerakan bahunya. “Posisi itu hanya memperjelas hubungan dengan pentakel dan perempuan suci.” Ekspresi wajah Fache menggelap. “Maaf?” “Replikasi. Mengulang sebuah simbol adalah cara termudah untuk memperkuat artinya. Jacques Saunière telah memosisikan dirinya seperti bintang lima titik.” Jika satu pentakel baik, dua lebih baik lagi. Mata Fache mengikuti lima titik pada kedua tangan, tungkai, dan kepala Saunière sambil sekali lagi dia mengusapkan tangannya pada rambut licinnya. “Analisa yang menarik” Dia terdiam.

“Dan kebugilannya?” Dia menggumam ketika mengucapkan kata-kata itu, tampak tak suka melihat tubuh lelaki tua itu. “Mengapa dia melepas bajunya?” Pertanyaan yang sangat bagus, pikir Langdon. Dia sendiri sudah mempertanyakan hal itu sejak melihat Polaroid itu. Terkaan terbaiknya adalah bahwa bentuk tubuh bugil seseorang merupakan penjelasan bagi Venus--dewi seksualitas manusia. Walau budaya modern banyak menghapus keterkaitan Venus pada penyatuan fisik lelaki/perempuan, sebuah mata tajam etimologi dapat melihat sisa arti asli Venus dalam kata venereal yang artinya penyakit kotor.

Langdon memutuskan untuk tidak berbicara ke arah sana. “Pak Fache, saya betul-betul tak dapat mengatakan mengapa Pak Saunière menggambar dirinya dengan simbol itu atau menempatkan dirinya seperti ini, tetapi saya dapat mengatakan pada Anda bahwa lelaki seperti Jacques Saunière akan menganggap pentakel itu tanda dari ketuhanan perempuan. Hubungan antara simbol ini dan perempuan suci banyak diketahui oleh ahli sejarah seni dan ahli simbol.” “Baik. Dan penggunaan darah sebagai tintanya?” “Jelas dia tidak punya bahan yang lain untuk menulis.” Fache terdiam sejenak. “Sesungguhnya saya percaya dia menggunakan darah supaya polisi akan mengikuti prosedur forensik tertentu.” “Maaf?” “Lihat tangan kirinya.” Langdon mengamati sepanjang lengan pucat kurator itu sampai ke tangan kirinya, namun tak melihat apa pun.

Karena tak yakin, dia mengelilingi mayat im dan bahkan berjongkok. Sekarang dia melihat, dengan terkejut, bahwa kurator itu menggenggam sebuah marker besar berujung felt. “Saunière menggenggamnya ketika kami menemukannya,” ujar Fache sambil meninggalkan Langdon dan bergerak beberapa yard mendekati meja yang dapat dipindah-pindahkan, yang tertutup dengan peralatan investigasi, kabel-kabel, dan berbagai macam peralatan elektronik. “Seperti yang saya katakan kepada Anda,” ujarnya sambil mengobrak-abrik di sekitar meja itu, “kami tidak menyentuh apa pun. Anda sering melihat pena semacam itu?” Langdon berlutut untuk melihat mereknya. STYLO DE LUMIERE NOIRE.

Dia melihat ke atas dengan terkejut. Pena sinar hitam atau watermark stylus merupakan sebuah pena berujung felt istimewa, pertama kali dirancang oleh museum-museum, para ahli restorasi lukisan, dan polisi bagian pemalsuan untuk memberikan tanda tak terlihat pada benda-benda. Spidol ini dapat dituliskan dengan tinta nonkorosif, tinta pijar berbahan dasar alkohol sehingga hanya dapat dilihat dalam sinar hitam. Kini petugas-petugas pemeliharaan museum membawa marker seperti ini pada hari-hari tugasnya untuk memberi tanda pada bingkai dan lukisan yang memerlukan restorasi. Ketika Langdon berdiri, Fache berjalan ke lampu sorot dan mematikannya. Galeri itu tiba-tiba menjadi sangat gelap. Langdon seperti buta sesaat, dan merasa tak yakin. Bayangan Fache muncul, disinari cahaya ungu terang..

Dia mendekat membawa lampu senter, yang menyelubunginya dengan sinar ungu. “Mungkin Anda tahu,” ujar Fache, matanya bercahaya dalam sinar ungu, “polisi menggunakan penerangan cahaya hitam untuk mencari bercak darah pada tempat kejadian kriminal dan bukti-bukti forensik lainnya. Jadi Anda dapat membayangkan keterkejutan kami ....“ Dengan tiba-tiba, dia mengarahkan cahaya itu ke mayat Saunière. Langdon melihat ke bawah dan terloncat ke belakang karena sangat terguncang. Jantungnya berdebar cepat ketika dia menangkap sinar aneh yang sekarang berkilau di depannya di atas lantai parket.

Goresan cakar ayam yang ternyata adalah tulisan tangan, dan merupakan pesan terakhir kurator itu, berkilauan ungu di samping mayatnya. Ketika Langdon menatap tulisan berkilauan itu, dia merasa kabut yang mengambang di sekitarnya menjadi lebih tebal. Langdon membaca pesan itu lagi dan menatap Fache. “Apa artinya ini?” Mata Fache bersinar putth. “Itu, Monsieur, adalah pertanyaan yang harus Anda jawab di sini.” Tak jauh dari situ, di dalam kantor Saunière, Letnan Collet telah kembali ke Louvre dan mengutak-kutik seperangkat audio console di atas meja kurator yang besar sekali itu. Walau patung kesatria abad pertengahan yang seperti robot dan mengerikan itu seolah menatapnya dari sudut meja Saunière, Collet tampak nyaman saja.

Dia mengatur headphone AKG-nya dan memeriksa input level pada perangkat keras sistem perekam itu. Semua sistem berfungsi. Mikrofon-mikrofon berfungsi sempurna, dan pengeras suaranya sejernih kristal. Le moment de verité, katanya dalam hati. Sambil tersenyum, dia memejamkan matanya dan bersiap menikmati sisa percakapan dari Galeri Agung yang sekarang direkam.

Penutup Bab 6 Novel The Da Vinci Code

Terima kasih telah membaca novel Bab 6 the da vinci code karya Dan Brown yang telah di terjemahkan ke bahasa indonesia. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengikuti navigasi Bab di bawah ini. Atau mengklik tombol open yang ada di bawah.